"Harus diterminasi paling lambat 2 minggu, setelah pemeriksaan ini", kata Dokter
10 malam terkahir Ramadhan 1426H
Berawal dari ...
Alhamdulillah, setelah menikah Allah swt menitipkan seorang calon jundi di rahimku.
Betapa bahagia dan juga nggak menyangka atas kepercayaan ini.
Karena setelah menikah, kami dipisahkan tempat, antara Jakarta dan Banda Aceh.
Alhamdulillah, Tsunami membawa hikmah, yang dapat menyatukan kami tinggal satu atap :)
Kehamilan kujalani dengan begitu lancar, tanpa mabok (layaknya ibu2 hamil) pada umumnya ...
Makanpun tidak ada pantangan..
Bulan pertama, mulai periksa ke dokter kandungan dan alhamdulillah sehat, diberi vitamin dll.
Bulan kedua, nikmatnya menjalani kehamilan, tanpa mabok dll, periksa pun kujalani setiap bulannya. Namun setiap hari ALlah swt menhadiahkan 'masuk angin' dan suamiku dengan setia memijatku
Bulan ketiga, rutin dengan setia suamiku menemani saat periksa ke dokter
Bulan keempat, tah henti-hentinya suamiku menyarankan sabar dan ikhlas menjalani kehamilan ini. Dan alhamdulillah dengan sabar kami bacakan ayat2 suci AlQur'an setiap pagi, kadang saya (calon ibu) yang membacakannya, dan juga lantunan ayat2 Qur'an kami perdengarkan.
Dan ALhamdulillah di bulan ini 'masuk angin' sudha tidak muncul lagi.Calon jundi pun sudah menunjukkan aktifitasnya
Bulan kelima, alhamdulillah calon jundi semakin meningkat aktifitasnya di dalam rahim, tendangannya semakin kenceng, Subhanallah.. Alhamdulillah ALlah swt memberikan kekuatan kepada saya untuk membacakan buku yang menarik kepada calon jundiku.
Bulan keenam, janin tumbuh normal dan masih aktif bergerak..
Di bulan ini, aku berniat untuk general check-up, alhamdulillah terlaksana dengan lancar. pada tanggal 27 september 2005.
3 hari kemudian hasil general check-up keluar.
Langsung besok harinya saya bawa ke dokter kandungan untuk konsultasi. Dan dokter kandungan menyarankan untuk diet rendah garam dan 2 minggu kemudian disarankan untuk USG di fetomaternal RSCM.
Selama 2 minggu, dokter kandungan memberikan obat antihipertensi, alhamdulillah pada pemeriksaan kandungan yang sudah dilakukan 2 minggu sekali, tekanan darah menjadi normal.
Dokter juga menyarankan untuk memperbanyak protein, dengan memakan telur kampung rebus. Berdarakan hasil general check-up, banyak protein yang terbuang berdasarkan pemeriksaan kimia urin.
Selama rentang waktu sebelum USG ke RSCM ini, kami manfaatkan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai hipertensi yang menyertai kehamilan.
Hanyak bisa pasrah dan ikhtiar, bagaimana agar kandunagn ini berjalan sampai saatnya nanti melahirkan.
Tanggal 24 Oktober 2005, diantar suami untuk USG di Fetomaternal RSCM
Alhamdulillah lancar, meskipun diawal saat registrasi ada sedikit kendala, karena dokter yang ditulis di surat rujukan tidak dapat hadir.
Hasilnya keluar saat itu juga yang membikin perasaanku carut marut.
Namun suami tetap mengingatkanku untuk ikhlas dan pasrah, apapun yang terjadi nanti.
Dari hasil diagnosa dokter, diindikasikan terjadi hipoksia, atau aliran oksigen ke janin tidak lancar, disebabkan tekanan darah tinggi yang menyertai kehamilan sehingga metabolisme tubuh ibu sudah sangat terganggu.
Baru kali ini kualami hipertensi, disaat kehamilan pertamaku ini.
Akibat hipoksia, maka terjadi IUGR (pertumbuhan berat janin tidak sempurna atau kurang berat badannya berdasarkan umur kandungannya)
Saran dokter adalah :
a. Periksa kondisi ibu,d an evaluasi
b. Terminasi paling lambat 2 minggu, setelah pemeriksaan ini
Perasaan calon ibu mana yang tidak carut marut saat itu, tapi kucoba tuk optimis bahwa saya bisa mengandung janin sampai usia mejelang kelahiran.
Istiqhfar tiada henti, serta perasaan tidak percaya terhadap apa yang telah menjadi keputusan hasil pemeriksaan dokter.
Tanggal 26 Oktober 2005, hasil dari RSCM saya tunjukkan ke dokter kandunganku.
Ternyata, dokter di RSCM adalah teman dari dokter kandunganku, Sehingga dokter kandungan sudah tahu semua hasil pemeriksaanku di RSCM.
Dengan menegarkan hati, kami dengar dengan tenang penjelasan dari dokter kandunganku, Apa akibat jika kehamilan ini dilanjutkan, namun dokter pun masih bertahan untuk tidak segera mengakhiri kehamilanku ini.
Sebelum pulang, saya diberi obat jalan, dan diminta untuk bedrest.
"Suster, tensi ibu wiji berapa ?", tanya dokter kandunganku
"150/100, dok". jawa susternya
"Coba deh, saya periksa lagi, masak setinggi itu?", tambah dokternya
Akhirnya setelah diperiksa tensi menjadi 170/120, dokter kandunganku nggak percaya, akhirnya saya diminta untuk tidur dan diukur kembali.
Dan betapa kagetnya, tensiku saat itu sudah meningkat menjadi 180/120.
"Ibu, harus rawat inap, dan bed rest, tidak bisa ditawar", kata dokternya
Akhirnya saya dengan suamiku pun menerima apapun keputusan yang terbaik.
Kami hanya bisa tawakkal, denagn sergap suster mengantarku dan mengambil sampel darah dan urine untuk diperiksa lab kembali.
Jam 12 malam, suamiku pulang untuk mengambil pakaian.
Tanggal 27 Oktober 2005, tepat jam 3 diniahri suster menginformasikan bahwa kehamilanku harus ditermiansi melalui operasi caesar pukul 06.00 WIB
Ikhlas, tawakal, takut, segalam macam perasaan menghinggapi hatiku sesaat suster menginformasikan hal itu.
Namun suamiku tetap mengingatkanku bahwa kita harus siap menghadapi apapun yang terjadi dan harus ikhlas.
Tanggal 27 Oktober 2005, tepat jam 6 pagi, operasi dimulai dan berjalan lancar.
Janin yang saya kandung langsung menangis keras sesaat dikeluarkan dari rahimku. Kondisi organ bayi semua lengkap, hanya kekurangan berat badan, karena mengalami hipoksia saat kehamilan, serta saat itu umur kandunganku baru 7 bulan.
Perasaan bahagaai sedih bercampur jadi satu. Namun kami tetap pasrah, apapun yang terjadi dengan diri dan bayi kami, InsyaAllah ikhlas.
Anak kami langsugn dirawat di ruang NICU, dan dirrawat secara khusus, juga diberi obat penguat paru-paru, agar kuat.
Apapun tindakan yang dilakukan terhadap anak kami, dokter selalu meminta konfirmasi.
Tanggal 30 oktober 2005, menjelang sholat isya', dokter NICU memanggil kami, dan apapun kondisi dan yang akan terjadi kami terima dengan ikhlas, InsyaAllah.
Saya dan suami langsung dipersilahkan menuju ruang bayi.
Kami dapatkan, kondisi anak kami pernapasannya sudah terganggu. Dan terjadi pendarahan disaluran pernapasannya.
Kami hanya bisa tawakal, habis airmata ini, serasa sudah kering.
Suster yang menjaga segera memberikan ayat suci AlQur'an kepada kami.
Suamiku membacakan Surat Yaasin, dan nampak oleh kami berdua, betapa napas anak kami, sudah semakin lemah.
Dan kubacakan bacaan Talqin, Laa Illaha ilaallah sebanyak 3 kali, di dekat telinganya. Setelah itulah anak kami sudah kembali kepada pemilik sesungguhnya, Allah swt.
Saat itu Allah swt telah mengambil kembali apa yang memang hanya sebagai titipan bagi kami.
Anakku, Nasyaamah Hasna Nabila, semoga engkau menjadi bidadari Surga amiin.
Dan maafkan Ayah dan bundamu jika selama mengandung dan selama engkau hidup 4 hari, Ayah Bundamu tidak bisa memberikan yang terbaik bagimu ...Nak.
InsyaAllah kita nanti berjumpa kembali yaa..
Semoga hari-hari Nasya disana bahagia..
Jadilah bidadari yang shalihah ya...
Doa Ayah Bunda selalu untukmu, sayang ...
Dan dengan peristiwa ini, semoga Allah swt semakin menambah keimanan Ayah Bundamu, amiin
Serta menjadikan Ayah Bunda untuk berhati2 jika nanti Bunda dipercaya dan diamanahkan untuk mengandung lagi, yaaa
-Jakarta-
Ayah dan Bunda